SELAMAT BERKUNJUNG

Kepada semua pengunjung blog saya, selamat berjumpa dan terimalah persembahan ini.......salam

Senin, 23 Juli 2012

METODE SAMPLING TANAH UNTUK IDENTIFIKASI NEMATODA


I. Pendahuluan
Nematoda merupakan salah satu organisme pengganggu penting selain serangga, bakteri, cendawan dan virus yang dapat menyerang tanaman / bagian tanaman, dan sangat merugikan ekonomi apabila nematoda tersebut sudah menyerang tanaman / bagian tanaman perkebunan maupun hortikultura kita secara meluas. Beberapa jenis nematoda parasit tanaman dapat menjadi perhatian, misalnya di kebun Albamas, penanaman landscape setiap tahunnya kehilngan hasil yang disebabkan oleh nematoda berkisar antara 5 sampai 10 % pertahun (Gazaway, 1995). Di bagian tenggara dunia, dimana lingkungan menguntungkan bagi reproduksi nematoda, kehilangan hasil dapat lebih tinggi.
Contoh lain Heterodera saccari yang menyerang tanaman padi di Norwegia (Babatola, 1984) mengalami penurunan produksi panen maksimum hingga 70 % (Coyne and Plowright, 1998 dalam Compendium 2000). Nematoda Hirschmaniella oryzae telah menginfeksi 58 % tanaman padi di seluruh dunia sehingga dapat menyebabkan kerugian produksi panen hingga 25 % (Hollis and Keoboonrueng, 1984 dalam Copemdium 2000). Contoh lainnya adalah Radopholus similes merupakan parasit penting yang menyerang tanaman pisang secara migratory endoparasit (Gowen and Queneherve, 1990 dalam Compendium 2000), nematoda yang sama juga telah dilaporkan menyerang jahe hampir separuh dari luas Negara Fiji dengan rata-rata serangan 10 – 50 % (Koshy and Bridge, 1990).
Nematoda parasit menghendaki tinggal pada tanaman untuk bereproduksi & hidup dalam waktu yang lama. Tidak ada tanaman atau bagian tanaman yang bebas dari daya tarik nematoda, nematoda memakan akar-akar tanaman menghisap air & memakan makanan yang dihasilkan tanaman, sehingga dapat melemahkan seluruh bagian tanaman.
Berdasarkan sifat hidupnya nematoda parasit pada tanaman dibagi menjadi dua golongan, yaitu nematoda parasit akar yang hidupnya di dalam tanah, dan nematoda parasit yang hidupnya di atas permukaan tanah, nematoda parasit akar, hidup di dalam tanah, di dalam tanaman atau disekitar tanaman. Sedangkan nematoda parasit di atas permukaan tanah, mulai siklus hidupnya pada tanah atau di permukaan tanah. Seringkali pada sisa-sisa tanaman inangnya, tetapi apabila kemudian ada tanaman inang yang cocok, maka nematoda tersebut naik kebagian tanaman dan menyerang batang, cabang, petiol, daun ataupun biji.
Penyebaran nematoda di dalam tanah biasanya tidak teratur, pada umumnya berhubungan erat dengan penyebaran akar-akar tanaman dan daerah sekelilingnya yang berdekatan dengan akar, pergerakan nematoda di dalam terbatas hanya beberapa meter saja pertahun. Jumlah nematoda parasit tanaman lebih besar pada tanah-tanah yang ditanami dari pada tanah kosong. Nematoda biasanya berkumpul pada lapisan teratas kurang lebih setebal 30 cm. Menurut pemdapat para ahli pada lapisan tanah setebal 2,5 cm mengandung kurang lebih 15 juta ekor nematoda pertahun.
Nematoda parasit tanaman pada umumnya menghuni daerah perakaran, oleh karena itu populasi tertinggi dijumpai di sekitar daerah perakaran. Apabila nematoda itu terdapat di dalam tanah dengan tanaman inang yang cocok populasi akan meningkat selama akar tanaman tersebut masih sehat. Sebaliknya populasi akan menurun apabila sistim perakaran dari tanaman yang diserang tersebut telah rusak.
Dalam ketiadaan tanaman inang, populasi nematoda akan menurun dengan cepat, untuk stadia tertentu, karena mekanisme hidupnya mempunyai kemampuan untuk tetap tinggal di dalam tanah selama jangka waktu tertentu tanpa makan. Apabila makanan cocok bahkan mungkin populasinya akan meningkat, karena makan cukup tersedia.
Faktor lingkungan sangat mempengaruhi keadaan tanaman dan nematoda di dalam tanah maupun dalam akar, serta keadaan tanah itu sendiri. Dalam hubungannya dengan reaksi terhadap lingkungan, tanaman juga dapat mempengaruhi perkembangbiakan nematoda. Sebaliknya dengan merusak tanaman, nematoda mempengaruhi pertumbuhan tanaman tersebut. Dengan demikian ada hubungan timbal balik antara nematoda, tanaman dan keadaan lingkungan. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan nematoda adalah tanah, iklim, dan tanaman.
Tekstur tanah adalah ukuran partikel (butir-butir) tanah, tanah yang bertekstur kasar, biasanya mengandung persentase pasir yang tinggi dan pori-pori tanah yang besar. Tanah yang demikian lebih cepat menjadi kering dari pada tanah yang bertekstur halus dan berpori kecil. Menurut penelitian para ahli, Heterodera spp. (nematoda kista), Meloidogy spp. (nematoda buncak akar), Pratylenchus spp. (nematoda luka akar) dan Trichodorus spp. terdapat dalam jumlah yang banyak pada tanah bertekstur pasir kasar. Ditylenchus dipsaci (nematoda yang menyerang batang) heterodera sachachtii (nematoda yang menyerang gula bit), beberapa species Pratylenchus spp. banyak dijumpai pada tanah berstekstur liat. Sedangkan Tylenchus semipenetrans (nematoda yang menyerang jeruk) banyak dijumpai pada tanah bertekstur pasir dan liat.
Kecepatan bergerak nematoda di dalam tanah berhubungan dengan diameter pori-pori tanah, ukuran partikel tanah, diameter nematoda dan ketebalan lapisan air tanah. Seekor nematoda tidak dapat bergerk diantara partikel-partikel tanah, apabila diameter pori-pori tanah lebih kecil daripada diameter nematoda tersebut.
Sampling tanah dan akar tanaman untuk adalah komponen penting dari diagnosa penyakit tanaman, suatu tanaman yang diserang nematoda dapat salah duga dengan defesiensi unsur hara atau penyakit lain. Teknik dan praktek untuk mengkoleksi akar, jaringan daun atau batang, demikian juga sampel tanah adalah komponen yang harus diperhatikan dalam diagnosa suatu penyakit tanaman. Konsep Integrated Pest Management (IPM) dan Integreted Crop Production adalah sangat berguna. Pengetahuan mengenai populasi nematoda dapat memperbaiki metoda pengujian, biasanya data dari hasil metoda ektraksi tidak bisa mewakili dari area sebaran nematoda tanpa dengan pengambilan sampel yang tepat. Akar tanaman merupakan sampel diagnosa efektif (seperti puru akar yang di sebabkan oleh Meloidegony spp).
Sampling tanah adalah dasar untuk determinasi & mengetahui penyebaran nematoda parasit tanaman. Negara-negara maju menghendaki surat kesehatan tanaman atau media tempat tumbuh tanaman bebas dari nematoda, melalui Karantina atau peraturan kesehatan tanaman lainnya untuk mengeluarkan sertifikat bebas nematoda.
Oleh karena itu metoda pengambilan tanah dan akar untuk analisa nematoda sangat diperlukan agar mendapatkan tanaman, produk hasil tanaman dan media tumbuh tanaman benar-benar bebas dari nematoda, disamping itu untuk mengetahui jumlah dan jenis-jenis nematoda yang terdapat pada media tersebut.


II. METODE SAMPLING
A. Waktu Pengambilan Sampel
Umumnya waktu pengambilan sampel untuk nematoda bervariasi menurut jenis, umur, dan stadia-stadia tertentun tanaman yang di serang nematoda. Hasil penelitian Auburn University (W. Gazaway ,1995). waktu pengambilan sampel untuk nematoda yaitu pada priode populasi nematoda tinggi, sehingga nematoda-nematoda tersebut cepat dapat terdeteksi.
:
Rekomendasi pengambilan sampel untuk specific tanaman yaitu
Jenis Tanaman
Waktu yang baik untuk sampling
Jagung
Agustus-Oktober
Kapas
September-Oktober
Kacang tanah
Agustus
Kedele
September-Oktober
Tomat
Juni-September
Kentang
Mei -Agustus
Beberapa faktor yang harus diperhatikan pada saat pengambilan sampel :
a) Sampel harus diambil sebelum pengolahan tanah dan sebelum tanam.
b) Sampel diambil pada saat nematoda aktif dan populasi tinggi
c) Tanah harus berair tetapi tidak sangat dingin atau beku
d) Jika aplikasi pestisida untuk aplikasi untuk program pengendalian nematoda, sampel harus diambil sebelum aplikasi, tetapi sebelum penanaman untuk tujuan identifikasi
e) Waktu yang tepat untuk sampling adalah sebelum panen, untuk persiapan musim tanam selanjutnya, khususnya untuk tanaman gula bit atau tanaman kentang.
f) Jangan mengumpulkan sampel ketika tanah kering atau sangat basah, dimana populasi nematoda umumnya sangat rendah pada kondisi tersebut..
B. Peralatan Pengambilan Sampel
Peralatan yang digunakan untuk pengumpulan sampel tanah untuk pengujian nematoda yaitu : Sekop, garu tanah atau tabung, alat pengambil sampel bermotor atau tabung sampling type T, dimana "T" type sampling adalah alat yang ideal untuk mengumpulkan beberapa type sampel tanah untuk analisa nematoda..
. Alat sampling type T"
C. Pemetaan Lapang
Penyebaran nematoda jarang seragam atau tidak konstan, tetapi sangat cepat. Hampir setiap waktu terjadi penyebaran yang tidak sama, sehingga perlu pemetaan sebagai informasi tambahan. Beberapa observasi terdahulu, perubahan tanaman, tektur tanah, kadar air dan pola pengairan atau sejarah tentang penanaman dapat menjadi keterangan tambahan
D. Jumlah dan Ukuran Sampel
Ukuran sampel dipengaruhi oleh area dan tanaman yang akan disampling. Nilai tanaman dan informasi tambahan yang dikumpulkan selama pengambilan sampel . Ukuran sampel diatur pada batasan jumlah titik sampel tanah yang ditentukan. Estimasi ketelitian dari hasil nematoda dapat diperbaiki dengan meningkatkan jumlah titik sampel tanah. Ini juga tidak mahal dari pada peningkatan jumlah aktual sampel. Aturan yang digunakan untuk memperkirakan biaya di alokasikan dengan pertimbangan 1 (satu) persen dari totalbiaya produksi tanaman untuk sampling nematoda.
Pendekatan yang baik pada sampling yaitu mencurahkan tanah yang terkumpul pada wadah yang bersih, campur dengan rata dan kirim satu quart (1.136 liter) atau sedikitnya 500 cc untuk diproses. Satu sampel mungkin digunakan mewakili lebih dari lima acres (20.350 m2) dari subdivisi area yang seragam yang dibedakan dengan pemetaan. Masing-masing sampel dapat berisi sekurangnya 20 titik, atau jika mewakili kurang 5 acre, sedikitnya empat titik peracre. Tempatkan sampel pada kantong yang kuat dan mempertahankan kelembaban dan mudah dikenali dengan menambahkan label dibagian luarnya. Label dibagian dalam kantong dapat mudah basah dan luntur.
Nematoda jarang terjadi seragam dilapangan, lebih dari satu subsampel diambil dari beberapa areal. Jumlah dari subsampel yang diperlukan dipengaruhi ukuran areal. Untuk areal yang kecil (kurang dari 4 acre) kumpulkan 20 subsampel. Sedangkan untuk areal yang luas (lebih dari 4 acre), pisahkan area kedalam bagian masing-masing 4 acre dan kumpulkan sekurangnya 20 subsampel untuk setiap bagian. Jika area terdiri dari beberapa jenis tanah, pisahkan area pada beberapa bagian sesuai dengan jenis tanah. Kumpulkan stidaknya 20 subsampel setiap bagian.
nt_fig1.jpg (7475 bytes) A nt_fig2.jpg (5307 bytes) B
nt_fig3.jpg (4113 bytes) C nt_fig4.jpg (8006 bytes) D
Untuk tanaman yang rapat , kumpulkan sekurangnya20 subsampels dari masing-masing bagian empat acre Mengacu pada gambar A.
Untuk tanaman berjalur, kumpulkan subsampels dari zona perakaran mengikuti jalur. Mengacu pada gambar B.
Untuk tanaman menahun, kumpulkan dua subsampels dari garis titik untuk masing-masing tanaman. Mengacu pada gambar C.
Untuk tanaman tunggal seperti pohon atau semak, kumpulkan sepuluh subsampels: lima dekat batang dan lima dari garis titik Mengacu pada gambar D.
E. Tempat Pengambilan Sampel
Contoh tanah dapat diambil dari zona perakaran tanaman. Jika tanaman sudah tidak ada, ambil contoh pada bakal zona perakaran. Contoh tanaman diambil dari bagian tanaman yang menunjukan gejala, jika ada. Contoh tanah atau tanaman dapat diambil dari area yang bermasalah yang menunjukan gejala dan dari area yang tidak terjangkit untuk perbandingan. Kedalaman dari zona perakaran bervariaisi tergantung pada jenis tanaman. Untuk tanaman setahun dan rumput-rumputan sedalam 6 inchi.
Sebelum menanam tanaman setahun, contoh dari lapangan harus diambil pertama kali dan dibuang sedalam 2 (dua) inchi dari atas permukaan tanah., dan pengambilan contoh dengan kedalaman 15-20 inchi. Alat penggalian harus lebih dari 30 inchi dan harus lebih panjang lagi pada kondisi kering atau beku.


III. Penanganan Sampel
Penanganan sampel meliputi pelabelan, pengepakan, penyimpanan dan pengiriman ke laboratorium pengujian. Dalam penanganan sampel perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Jika contoh diambil lebih dari satu tempat , harus dilabel dengan tinta permanen pada masing-masing kantong dapat juga menulis pada label yang diletakan pada kantong. Jangan menyimpan label kertas di dalam kantong ia akan bercampur dan dapat tak dapat dibaca. Jika terdapat beberapa contoh kiriman yang dibungkus bersama masing –masing pada kertas Koran pelabelan jangan tertutup.
b) Sampel tanah harus disimpan pada kantong plastik. Disegel untuk menjaga tidak kering dan dimasukan pada kotak karton sampling Segel kantong plastik untuk menjaga kadar air, contoh yang kering tidak bagus unuk diagnosa nematoda. . Nomor sampel dan asalnya harus dicatat pada setiap karton
c) Hindarkan sampel terhadap panas matahari karena nematoda akan berpengaruh jelek oleh temperature yang ekstrim, panas dan sinar UV akan membunuh nematoda. Beberapa menit pada dasbor atau dibelakang dari pick up atau pada kendaraan yang tertutup, akan meberikan kondisi yang tidak baik. . Penyimpanan sampel pada kondisi yang tidak baik akan menghasilkan ketidak akuratan, yang memberikan rekomendasi yang tidak baik. Apabila menyimpan contoh lebih dari satu hari atau jika sampel tidak dikirim segera sebaiknya disimpan dilemari es tetapi tidak beku. pada 55 o F.
d) Tangani contoh dengan hati-hati dan dikemas dengan baik. Nematoda berada diantara patikel tanah, jadi dengan bantingan akan menjadi rusak.
e) Isikan Informasi pada formulir pengujian nematoda dan disertakan pada kantong sampel nematoda untuk identifikasi. Jaga penulisan data dari nomor dan asal dari masing –masing sampel. Dalam pemesanan untuk digunakan sebagai rekomendasi. Informasi yang diberikan mengikuti : a ). Sejarah tanaman b). Tanaman yang akan ditanam, c). nama lokasi, jenis dan tekstur tanah, gejala yang diamati, tanggal perlakuan nematisida terakhir. Juga informasi ini meliputi nama dan alamat dimana laboratorium yang diharapkan hasilnya disurati, dapat ditempatkan pada lembaran informasi untuk sampel tanah nematoda
Gambar sampel tanah yang dibungkus plastik.
Gambar Pelabelan karton kiriman sampel


DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim . 2001. Proseding Pelatihan Nematologi. Pusat Karantina Pertanian.Jakarta.
3. http://ipm.ncsu.edu/corn/Scouting_Corn/soil_sampling.html Nematode Assay Laboratory 115 Price HallVirginia Tech Blacksburg, VA 24061-0331
4. http://www.aces.edu/pubs/docs/A/ANR-0114/ANR-0114.html .1955. Collecting Soil and Root Samples for Nematode Analysis
5. Saad L. Hafez. http://www.uidaho.edu/sugarbeet/nmtds/cis1056.htm Sampling Procedure to Diagnose Nematode Infestations
6. William T. Crow and Frank E. Woods. 2007. Nematode Assay Laboratory. http://edis.ifas.ufl.edu/SR011

FUMIGATION RESEARCH


Jumat, 18 Juni 2010

false smut in rice seed

KAJIAN LAPANG RESPON PADI HYBRIDA TERHADAP SERANGAN CENDAWAN FALSE SMUT

(USTILAGINOIDEA VIRENS (CKE.) TAK. (1896)

OLEH : M. ACHROM

POPT MUDA BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN TANJUNG PRIOK

Padi hybrida telah menolong China untuk meningkatkan produksi padi mendekati 200 juta ton dari tahun 1976-1991. padi hybrida telah memberikan keuntungan lebih dari 30% dari varietas konvensional. Area pertanaman padi hybrida seluas 17.6 juta hektar sekitar 55 persen total area penanaman padi di China dan telah memproduksi padi hybrida 66 persen dari total padi yang dihasilkan. Walaupun penelitian pada penggunaan secara komersial dari heterosis pada padi telah diperbuat yang telah memberikan keuntungan sejak 20 tahun yang lalu, sebagai pandangan strategi, bahwa potensi hasil dari padi hybrida belum dapat sepenuhnya diperoleh.

Indonesia dengan penduduknya yang makanan pokoknya beras, beberapa tahun yang lalu masih belum dapat memenuhi kebutuhan beras nasional sehingga masih mengandalkan beras impor dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Untuk meningkatkan produksi beras dan menjadikan Indonesia swasembada beras, maka pemerintah mempunyai strategi dengan cara menggalakan penggunaan benih hybrida baik dari produksi luar negeri (impor) maupun hybrida lokal.

Dari hasil pengamatan POPT Karantina Tumbuhan melalui kegiatan Pemantauan OPT/OPTK diketahui bahwa varietas hybrida banyak mengalami kendala terutama adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan lokal antara lain penggerek batang , wereng coklat , cendawan bulir (false smut) yang disebabkan oleh Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896).

Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896) [anamorph] dengan nama umum false smut , termasuk kedalam kingdom fungi ,Phylum: Anamorphic fungi dengan nama lain :Ustilago virens Cooke 1878 [anamorph], Tilletia oryzae Patouillard 1887 [anamorph],Ustilaginoidea oryzae (Pat) Brefeld [anamorph],Sphacelotheca virens Omori 1896 [teleomorph], Claviceps virens (Cke) Sakurai [teleomorph], Claviceps oryzae-sativae Hashioka (1971) [teleomorph]. Cendawan ini pertamakali digambarkan oleh Cooke pada tahun 1878 dengan specimen dasar dari India dengan nama Ustilago virens. Patouillard (1887) memberi nama specimen dari Jepang sebagai Tilletia oryzae, yang mana belakangan diganti oleh Brefeld (1895) menjadi Ustilaginoidea oryzae (Pat) Brefeld. Takahashi (1896) memberi nama Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak.: nama ini untuk anamorph. Bentuk teleomorph disebut Sphacelotheca virens (Omori, 1896) and Claviceps virens (Cke.) Sakurai. Hashioka (1971) menyediakan nama Claviceps oryzae-sativae for the teleomorph.

Inang utama dari cendawan ini adalah padi Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896) juga telah dilaporkan pada jagung di Louisiana (USA) dan Panama. Di India dilaporkan pada Oryza officinalis (Rao and Reddy, 1955), pada Chinachne koenigii, Digitaria marginata (Shetty and Shetty, 1985), Panicum trypheron (Shetty and Shetty, 1987), dan pada jagung di Kashmir (Sharma and Chaudhary, 1986). Cendawan ini menyerang pada stadia pembuahan dan bagian yang diserang adalah malai dan biji. Pengaruh yang diakibatkan oleh penyakit ini yaitu menyebabkan berat biji berkurang,kualitas beras berkurang, dan serangan yang berat pada biji menyebabkan beras tidak dapat dimasak karena adanya perubahan warna.

Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896) dilaporkan menyebar di Asia, Afrika, Australia dan Oceania, Amerika utara, Amerika tengah dan selatan, India barat dan Italy.

Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896) membentuk biji individual pada panicle pada spora bola dengan awal nampak berwarna putih perak, selanjutnya menjadi jingga dan akhirnya hijau, coklat atau hitam pada saat matang. Bola tersebut mempunyai penampilan velvety dari stadia jingga untuk matang, dengan permukaan luar ditutupi oleh chlamydospores (conidia).

Gambar 1. Gejala serangan pada biji padi (kiri) (IRRI)

Penyakit ini hadir pada musim hujan dengan kelembaban tinggi, Penyakit ini menyukai temperatur dengan kisaran 23oC (minimum) sampai 31oC (maximum), dengan kelembaban 96 % dan hari berawan sejak periode pembungaan (Singh, 1984). Area tanam dengan kondisi pemupukan yang tinggi dengan nitrogen tinggi, disukai untuk pertumbuhan vegetatif padi, dimana sangat peka terhadap penyakit (Ikegami, 1960). Seringkali irigasi meningkatkan kelembaban, yang mana disukai penyakit false smut di Bihar India (Bhagat and Prasad, 1996). pH optimum dan temperature untuk perkecambahan chlamydospore pada pH 5.8-6.3 dan 28°C, berturut-turut ;gula dan cahaya mendukung perkecambahan chlamydospore . pH optimum dan temperature untuk pertumbuhan mycelial yaitu pH 4.92-6.98 dan 25-28°C, berturut-turut.

Dari pengamatan di lapangan di sentra produksi padi Jawa Barat terhadap beberapa varietas padi hybrida diketahui bahwa pada kondisi musim kemarau penyakit ini masih dapat menyerang padi hybrida dan tidak pada padi non hybrida, begitu juga di negara asal hibrida yaitu China penyakit ini merupakan penyakit utama tanaman padi hibrida. dan juga di laporkan di Pakistan bahwa False smut merupakan penyakit utama pada penanaman padi hybrida. Di India, padi hybrida dengan menggunakan beberapa kultur praktis dilaporkan diproduksi 6 ton/Ha saat musim kering tetapi pada musim hujan hanya dihasilkan 3 ton/Ha diakibatkan oleh penyakit false smut. Penyakit ini menjadi masalah yang serius di wilayah perbukitan dan kaki bukit Uttar Pradesh, India. Padi hybrida berbeda dengan padi non hybrida yaitu biji terbuka sehingga sangat peka terhadap hama dan penyakit yang bersifat terbawa benih, diantaranya false smut.

Gambar 2. Serangan Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896)

pada padi hybrida Varietas Sembada di Huan China September 2008 (Suyatman)

Gambar 2. Serangan Ustaligonoidea virens pada padi Hybrida Varietas

Intani 1 di Desa Karang Wangi Kec. Binong Kab. Subang Juli 2008 (M. Achrom)

Gambar 3. Serangan Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896)

padi padi hybrida Varietas Hibrindo1 di Kec.Cibuaya

Kab.KarawangJuni 2007 (Agusman Jaya)

Gambar 4. Serangan Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896)

pada padi Hybrida Varietas. Bernas Super di Kec. Cabang Bungin

Kabupaten Bekasi Mei 2007 (Suyatman)

Dari beberapa informasi yang dapat terkumpul , dapat disimpulkan bahwa ketahanan padi hybrida terhadap serangan penyakit false smut (Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. (1896)) sangat rendah sehinggi diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut untuk menciptakan varietas padi hybrida yang tahan terhadap OPT diantaranya tahan terhadap penyakit false smut ini.

Pustaka :

Anonimous. 2007. Hybrid Rice in Asia: Sowing the Seeds of Dependency Southeast Asia Regional Initiatives for Community Empowerment (SEARICE). Pesticide Action Network Asia and the Pacific (PAN AP), Penang, Malaysia

http://oryza.com/Asia-Pacific/Pakistan-Market/pakistan-rice-crop.html.Pakistan: Rice crop under threat from hybrid seeds , By Oryza News on May 15,2007.

http://www.knowledgebank.irri.org/RP/fungDiseases/False_Smut/ Economic_Importance.htm.

http://www.knowledgebank.irri.org/RiceDoctor/Fact_Sheets/Diseases/ False_Smut.htm

www.ikisan.com/links/ap_riceHybridRice.shtml -

Achrom M, Jarot S. Nolis H, 2008. Laporan Hasil Pemantauan OPT/OPTK di Kabupaten Subang Tahun 2008.

CABI. 2007. Crops Protection Compedium. UK.

Cucu umi K. dkk. 2007. Laporan Hasil Pemantauan OPT/OPTK di Kabupaten Karawang. Tahun 2007

LI Yu-Sheng,ZHU Zhen,ZHANG Ya-Dong,ZHAO Ling,WANG Cai-Lin*. Genetic Analysis of Rice False Smut Resistance using Major Gene Plus Polygene Mixed Genetic Model

Suyatman dkk. 2007. Laporan Hasil Pemantauan OPT/OPTK di Kabupaten Bekasi 2007.

Minggu, 18 Januari 2009